Selasa, 26 November 2013

Refleksi Aktualisasi Budaya Populer

Refleksi Aktualisasi Budaya Populer
JATI DIRI BANGSA NASIBMU KINI

Sekilas pandang

Kemajuan teknologi yang membawa dampak globalisasi adalah realitas yang mau tidak mau harus dihadapi seiring dengan perkembangan jaman itu sendiri.  Apa yang sedang dan telah terjadi di seluruh muka dunia kini kini dapat dilihat  dan bahkan digenggam melalui perantara media massa. Semakin canggihnya penemuan teknologi cetak, perekam suara atau gambar, menghasilkan koran, majalah, tabloid, radio, maupun televisi yang tiap hari bahkan tiap detik mengekspose informasi segala peristiwa dan juga menyuguhkan tawaran-tawaran gaya hidup. Realitas ini berimplikasi pada perubahan paradigma masyarakat dalam menyikapi suatu kehidupan, terutama pada generasi muda yang kerap phobia agar tidak dikatakan ketinggalan jaman. Lahirlah, sebuah gaya hidup baru yang dimotori anak-anak muda yang selalu mengatasnamakan dirinya sebagai “agen modernitas”. Sebagian remaja laki-laki akan merasa percaya diri dan menjadi anak jaman saat berpenampilan sedemikian rupa. Yang merasa mewakili golongan strata masyarakat bawah mendandani rambutnya agar dapat berdiri keatas mirip binatang landak, menempeli pakaiannya dengan pernik-pernik logam mirip deretan bintang di langit, coret-coret tembok dengan cat semprot menorehkan kata-kata yang sulit dibaca, nongkrong  di perempatan jalan raya, menyanyikan lagu yang banyak teriak-teriak dengan anggapan sebagai aspirasi perlawanan terhadap kekakuan kemapanan. Sedangkan remaja yang lain dengan meniru kaum menengah ke atas, mencoba tampil gaya dengan busana dari pabrik ternama walaupun sekedar tulisan saja, pakai parfum yang dapat membuat bidadari lupa diri, nongkrongnya di “Kang Jastro CafĂ©”, makan dan minum dengan menu asal bahasa asing, pilihan lagunya yang merengek-rengek menunjukkan kalau lagi jatuh cinta.

Fenomena seperti ini telah masuk dalam praktik-praktik kehidupan serta telah menjadi bagian dari munculnya budaya baru. Keberadaan budaya baru ini membius dan menjadikan lupa bahwa kita telah menjadi konsumen empuk para pelaku industri yang menjajakan dagangannya melalui sarana “pop culture”.  Tak bisa dipungkiri bahwa telah banyak dan bermacam-macam bentuk  “budaya asing” yang kita konsumsi dan dibanggakan lewat sosok-sosok yang mengatasnamakan dirinya bagian dari “masyarakat modern”. Bahkan, keberadaan budaya baru ini telah mendominasi dan memegang kendali dalam realitas kehidupan serta mampu melindas sedikit demi sedikit dan akhirnya menggeser budaya lokal hingga tersudutkan dan terlempar dari lingkungan masyarakatnya. Tanpa sadar, kita telah terjebak dalam perangkap suguhan praktik-praktik yang mengusung budaya asing itu, dan memaksa menjadi bagian hidup dengan menganggap sebagai bagian dari masyarakat modern, tanpa memiliki kesadaran sama sekali apakah hal tersebut pantas atau tidak, sesuai atau tidak dengan kultur kebudayaan lingkungan kita.

Kehadiran  ”Budaya Populer” atau disebut juga dengan ”Budaya Pop” ditengah-tengah masyarakat kita tanpa disertai dengan filter pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran diri terhadap nilai budaya sendiri hanya akan membawa dampak besar terhadap keberadaan kebudayaan setempat yang menurut kesesuaian karakter masyarakat memiliki nilai-nilai luhur. Tergesernya budaya setempat dari lingkungannya sendiri, disebabkan oleh kemunculan sebuah kebudayaan baru yang didukung oleh putra-putrinya sendiri dan konon sebagai alasannya dianggap lebih atraktif, fleksibel dan mudah dipahami. Dalam membahas ”Budaya Populer”, yang selalu dihadapi adalah pemahaman yang multi persepsi hingga menimbulkan penafsiran yang beragam. Namun yang perlu direnungkan adalah bagaimanapun bentuknya jika sudah diusung oleh industri maka yang dihasilkan hanyalah kebudayaan instan yang berujung pada komersialisasi dan bagi konsumennya hanya menghasilkan peradaban dangkal pemikiran, tanpa nilai, pengkaburan makna, cari sensasi, berjiwa konsumtif dan hedonis.

Pengertian Budaya Populer

Untuk meminimalisir multi persepsi  terhadap definisi Budaya Populer, maka dapat dipilah menurut akar kata, yakni Budaya dan Populer.    Pengertian mengenai  kebudayaan (culture) sangatlah kompleks, masing-masing ahli merumuskan dengan kalimat yang berbeda walaupun menuju ke pengertian umum yang sama, yaitu sebagai pengembangan akal budi manusia. “Budaya” berasal dari bahasa Sanskerta yaitu, buddhaya  yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya juga dapat diartikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Dalam perkembangannya, definisi budaya dapat diartikan sebagai pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu (Raymond William : 1983). Sedangkan kata ”Populer”, Williams memberikan makna yang mengandung pengertian yakni : (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang; (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri (Williams, 1983). Dari tataran ini dapat disimpulkan bahwa istilah Budaya Populer dapat juga diterjemahkan dengan pengertian suatu aktifitas atau praktik-praktik sosial yang bisa menyenangkan orang dan disukai oleh banyak orang.


Makna Semu dan Distorsi Nilai

Awalnya, kebudayaan populer atau kebudayaan pop (pop culture) bersifat massal (umum), komersial, terbuka, dan lahir dari rakyat, dan tentunya disukai rakyat. Sehingga kebudayaan pop dikategorikan sebagai kebudayaan rakyat (folk culture), atau kebudayaan rendah (low culture). Bentuknya berupa musik, tarian, teater, gaya, ritual sosial, dan bentuk lain yang bersifat tradisional. Tumbuh pada tingkatan bawah (grass-root) sebagai perwujudan eksistensi dengan akses yang terbatas dan dicirikan dengan kesederhanaan. Oleh karena itu, kebudayaan pop dapat disimpulkan sebagai produk kultural yang berasal dari rakyat bawah.  Namun dalam perkembangannya, dan ini terutama yang terjadi di negeri ini, dengan difasilitasi oleh berbagai media yang telah memberikan suguhan berupa keanekaragaman tentang pola hidup dari bangsa-bangsa Barat termasuk memuat perilaku artis, model pakaian,  dan pernik-pernik penunjang gaya hidup sangat mengundang perilaku para remaja kita untuk cenderung mengikutinya secara harfiah. Dengan menangkap indikasi mentalitas para generasi muda kita, para produsen produk itu, menyebarkan perangkap melalui iklan media baik cetak maupun elektronik dengan gambar dan teks yang telah direkonstruksi, sehingga membuat target sasaran yang diincar semakin ketagihan dibuatnya.

Pergeseran makna dan nilai tampak terlihat pada aktualisasinya saat diterjemahkan oleh para remaja kita. Mengacu pada pengertian umum “kebudayaan populer” dan ketika menjadi bidikan kaum industriawan untuk dijadikan menu dagangan, membuat para konsumen awam cenderung mengikuti sehingga dijadikan “gaya hidup”. Hal ini, pada tingkat implementasinya ke masyarakat terutama di Indonesia, menjadi bias bahkan mengalami pergeseran baik secara makna maupun nilai.

Pertama,  titik awal yang menyatakan bahwa budaya pop banyak disukai orang. Ini dapat kita lihat bagaimana peranan media terutama televisi yang selalu menayangkan acara demi acara dengan hanya menekankan prinsip kesenangan tanpa menyertakan sifat-sifat mendidik. Tayangan sinetron, infotaintment atau sejenisnya merupakan  acara yang memiliki prosentase lebih banyak dalam jam tayang televisi. Dari sini kita dapat melihat bahwa sasaran konsumen adalah ‘mimpi’ anak muda. Tema asmara, dengan tokoh anak muda yang kaya dengan berbagai fasilitasnya, tak peduli apakah hal ini realistis atau tidak dengan kondisi sosial bangsa mampu mencipta ‘mimpi baru’ bagi kita. Yang lebih memprihatinkan lagi adalah tema cerita “rebutan cinta” dengan setting ruang sekolah (SMA), tokoh-tokohnya menggunakan seragam sekolah. Kemudian yang tak ketinggalan tingginya terpaan massa adalah acara ngrumpi yang dikemas dalam program infotaintment.  Hampir seluruh stasiun TV yang ada memiliki acara dengan konsep serupa, yaitu mengupas tuntas perilaku orang-orang yang dinobatkan sebagai selebritis. Mulai dari artis A yang sedang berdekatan dengan artis B, perselingkuhan artis C dengan artis D, keretakan rumah tangga artis E dengan artis F akibat hadirnya artis G, pakaian sepatu dan assesories yang dipakai artis H, sampai ke hal-hal yang bersifat privasi dieksplorasi habis-habisan yang anehnya menjadi suguhan yang disukai dan cenderung dijadikan teladan gaya hidup.

Kedua, “populer” yang didefinisikan sebagai jenis kerja rendahan. Kata “rendahan” disini mengacu pada strata masyarakat yakni kelas masyarakat rendah atau rakyat jelata. Sejarah terciptanya budaya populer secara umum memang berasal dari rakyat rendahan sebagai alat perjuangannya dalam memenuhi kebutuhan eksistensinya. Menurut John Fiske (1989), budaya populer merupakan sebuah wujud alat perlawanan terhadap budaya dominan.

Pada periode atau abad sebelumnya di banyak bangsa terdapat kesenjangan antara “kebudayaan tinggi” (high culture)  dengan “kebudayaan rendah” (low culture). Kesenjangan strata ini tersekat oleh dinding yang tinggi dan masing-masing terpisah atau berdiri sendiri. Kebudayaan tinggi (high culture), seringkali diidentikkan dengan yang bersifat khusus dan tertutup,  lahir dari kalangan atas (kaum elite). Kebudayaan ini dianggap bernilai luhur dan adiluhung serta memiliki standarisasi yang tinggi menyangkut selera, kualitas, dan estetika. Sedangkan kebudayaan rendah (low culture) atau kebudayaan rakyat (folk culture) yang kemudian diistilahkan sebagai kebudayaan popular (pop culture) diidentifikasi sebagai spontanitas, vulgar, serta dianggap berselera rendah. Namun dengan kekuatan pertahanan loyalitasnya dan berhasil menjadi bentuk kebudayaan baru, dimanfaatkan oleh kaum industri sebagai pangsa pasar yang menjanjikan. Lambat laun, dengan bantuan media (juga termasuk industri), kebudayaan populer dapat menembus sekat dan diterima oleh khalayak luas. Pada perkembangannya, akibat pengaruh dari industri produk barang maupun media dengan kekuatan iklan, budaya populer berkembang menjadi Budaya Massa. Burhan Bungin (2009) menyatakan Budaya massa adalah hasil budaya yang dibuat secara massif demi kepentingan pasar. Budaya massa lebih bersifat massal, terstandarisasi dalam sistem pasar yang praktis, heterogen, lebih mengabdi pada kepentingan pemuasan selera.

Pergeseran makna dan nilai yang terjadi dalam pengaktualisasian budaya populer di sekitar kita adalah kurangnya pengetahuan dan pehamanan tentang spirit budaya populer sebagai alat perjuangan eksistensi masyarakat bawah. Musik rock di Eropa dengan lirik lagunya berisi tentang protes sosial, musik reggae di Jamaica adalah pemberontakan terhadap kekakuan ideologi kekuasaan, komunitas punk di Amerika adalah perlawanan terhadap arogansi kemapanan, dan lain sebagainya. Namun di tangan kita bentuk aktualisasinya hanyalah menjadi konsumen belaka dan memang hal seperti inilah yang diinginkan oleh para kaum industri. Fenomena seperti ini bisa kita lihat, bagaimana larisnya produksi barang-barang dengan mengambil ikon Che Guevara, Bob Marley atau tokoh sejenis, berupa poster, kaos, emblem dan lain sebagainya yang dikonsumsi oleh para remaja tanpa tahu tujuannya.

Ketiga, “populer” sebagai karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang. Hal-hal yang bersifat kesenangan, tak dapat dipungkiri menjadi semacam kebutuhan pokok pada tiap manusia. Kenyataan ini yang kemudian menjadi pangsa pasar paling potensial oleh para industriawan terutama media yang selalu menyuguhkan acara-acara ‘asal orang senang’. Bagi industri media televisi, tentunya tidak sulit menciptakan perangkap acara yang dikemas secara hiburan lewat beragam program acara dengan konstruksi yang bersifat kesenangan serta dilancarkan secara terus-menerus dalam setiap serial komoditas, sehingga pemirsa begitu tergila-gilanya mengikuti apa yang disuguhkan oleh industri media televisi yang pengaksesannya bisa dilakukan kapan saja dengan secara gratis itu. Tayangan panggung hiburan musik dengan penyanyi-penyanyi cantik dan glamour ditayangkan mulai orang bangun tidur sampai beranjak mau tidur. Pengemasan acara yang menggiring masyarakat untuk berlomba-lomba menjadi aktris gencar dilaksanakan lengkap dengan iming-iming yang dianggap menyenangkan. Sebut saja, Audisi – audisian atau Idol-idolan. Dan anehnya (disebut aneh karena pemirsa tanpa sadar tergiring) adalah keputusan pemenang ditentukan oleh SMS yang dikirim pemirsa.

Keempat, pengertian budaya populer sebagai budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri. Pada tataran ini, dalam sejarah munculnya budaya populer di berbagai negara, dibuat oleh dan untuk rakyatnya sendiri sebagai bentuk perlawanan dan upaya eksistensi menghadapi problem sosial setempat. Pada tahap perkembangannya, budaya populer ini dibuat oleh orang-orang tertentu dalam hal ini pelaku komersial untuk kepentingan dirinya sendiri yakni, keuntungan finansial. Pergeseran makna dan nilai menjadi kian jelas tatkala dikonsumsi dan diaktualisasikan oleh kita yang hanya mengadopsi mentah dan menjadi epigon. Hal pertama yaitu kebudayaan populer yang berkembang di negara tertentu (asing), berlatar belakang persoalan sosial yang belum tentu  sama dengan persoalan lingkungan dimana para pengadopsi tinggal. Selain itu bentuk penyaluran ekspresi sebagai sarana perjuangannya belum tentu sesuai dengan kultur lingkungan kebudayaan disini.  Persoalan kedua, adalah budaya populer yang berkembang sengaja diciptakan oleh kaum kapital untuk kepentingannya sendiri yakni produk komoditi dan kita para pengadopsi tidak sadar kalau telah menjadi konsumen. Atas nama tidak ketinggalan gaya hidup modernitas, yang memang sengaja diciptakan para produsen tersebut, kita telah menjadi  pengikut setia dan bahkan siap membela memperjuangkannya agar dapat diterima khalayak secara meluas.


Karakteristik Budaya Populer

Beberapa analisa mengenai pola atau karakteristik budaya populer sebagai bahan kajian dalam menyikapi terhadap perkembanagan kebudayaan di sekitar kita, antara lain :

-    Relativisme, yaitu hilangnya batasan – batasan. Budaya populer menolak segala perbedaan dan batasan yang mutlak. Misalnya antara budaya klasik dan budaya salon, antara seni dan hiburan, antara budaya tinggi dan budaya rendah, iklan dan hiburan, hal yang bermoral dan yang tidak bermoral, yang bermutu dan tidak bermutu, yang baik dan jahat, batasan antara yang nyata dan semu, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan tersebut tidak lagi memiliki arti yang nyata.

-    Pragmatisme, menerima apa saja yang bermanfaat tanpa memperdulikan sesuai atau tidak hal tersebut dapat diterima dan diimplementasikan. Semua hal diukur dari hasilnya atau manfaatnya, bukan dari sesuai  atau tidaknya. Hal yang terutama adalah hidup hanya untuk saat ini (here and now), tanpa harus memikirkan masa lalu dan masa depan.

-    Hedonisme, lebih banyak berfokus kepada kesenangan dan pemuasannya daripada intelektualitas. Yang harus menjadi tujuan hidup adalah bersenang-senang dan menikmati hidup, sehingga memuaskan segala keinginan. Hal seperti ini menyebabkan munculnya budaya hasrat yang mengikis budaya malu. Untuk mencapai ke tahap kesenangan semuanya harus dikemas dengan konsep hiburan. Informasi dan berita juga harus menghibur, maka muncullah infotainment. Bahkan pengajaran agama pun harus hiburan.

-    Konsumerisme,  yaitu sebuah masyarakat yang senantiasa merasa kurang dan tidak puas secara terus menerus. Masyarakat yang membeli bukan berdasarkan kebutuhan, namun keinginan, bahkan gengsi.  “Aku bergaya maka aku ada.” Maka pada budaya ini, penampilan (packaging) seseorang atau sebuah barang (branding) sangat dipentingkan.

-    Instan, keinginan untuk cepat terlaksana tanpa mempertimbangkan proses-proses ideal yang menyertai. Budaya ini juga dapat dilihat dari semakin banyak orang ingin menjadi kaya dan terkenal secara instan. Buku-buku yang banyak beredar dan diminati adalah yang menawarkan hal-hal serba cepat.

-     Kontemporer, menawarkan nilai-nilai yang bersifat sementara, tidak stabil, yang terus berubah dan berganti (sesuai tuntutan pasar dan arus zaman).

Pudarnya Jati Diri Bangsa

Hegemoni “budaya asing” yang memberikan iming-iming berupa kenikmatan, glamouritas dan bertendensi pada propaganda modernitas sangat kuat mencengkeram masyarakat untuk merelakan dirinya terseret arus. Tak berlebihan kiranya budaya asing yang mendominasi gaya hidup masyarakat kita adalah budaya Amerika. Sebagai negeri yang terkenal dengan kekuatan kapitalismenya, Amerika dapat dikatakan sebagai “penguasa” kebudayaan baru dan digandrungi dengan kemasan budaya populer. “American Style” memang sangat nampak pada  pola hidup masyarakat kita terutama pada anak muda, walaupun sebagian dari masyarakat kita juga terbawa arus dan membanggakan kebudayaan bangsa lain, seperti Cina, Arab atau India. Kebudayaan negara-negara Barat yang menganut paham kapitalisme itu tidak saja mengubah tatanan sosial yang ada, namun mempengaruhi perilaku, gaya hidup, dan pola pikir masyarakat kita. Kebudayaan ini menumbuhkembangkan konsumerisme dan hedonisme di segala lapisan masyarakat, laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, kebudayaan lokal yang merupakan identitas yang kita miliki dan warisan para leluhur makin memudar, bahkan menghilang. Akibatnya generasi yang terlahir adalah generasi rapuh moralitas, minim nalar dan selalu tergiur dengan keglamouran hidup serta sikap instan.

Sebuah krisis jatidiri bangsa ini akan selalu tumbuh dan berkembang seiring dengan pesatnya arus modernisasi dan globalisasi yang menerjang negeri ini, sehingga faham-faham konsumerisme, pragmatisisme, liberalisme, materialisme, kapitalisme dan hedonisme yang berasal dari dunia barat akan selalu meracuni masyarakat negeri ini. “Keadaan ini disebabkan oleh kenyataan tidak dimaknainya secara benar tentang sistem nilai, wawasan hidup dan sikap yang berlaku di masyarakat selama ini dan tidak dibatinkannya pilar-pilar kebudayaan itu dalam diri setiap anggota masyarakat negeri ini” (Kunjana Rahardi, 2000). ”Ketika terjadi krisis tentang jati diri bangsa, maka masyarakat tidak peduli lagi tentang ideologi bangsanya, karena dianggap tidak berpihak kepadanya dan mencoba mencari-cari ideologi lain termasuk memuja-muja bangsa lain dari berbagai aspek yang mereka pahami dan dengan serta merta lewat caranya sendiri, mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari” (Naya Sujana, 2008).

Memahami budaya populer sebagai hasil konstruksi pemilik modal berarti juga menerima kenyataan diri bahwa sebagai pelaku budaya populer adalah identik dengan sikap pasif yang tak lebih dari sekadar pion-pion yang digerakkan. Proses sosial dimana tingkat kehidupan masyarakat dipengaruhi oleh unsur eksternal akan disertai dengan meninggalkan pola kehidupan yang lama kemudian menyesuaikan diri atau menggunakan pola yang baru.  Realitas kehidupan di masyarakat telah dipenuhi perilaku norak dengan mengusung faham kebebasan, hasil dari hegemoni Amerikanisasi dalam membentuk jati diri budaya populer yang siap meracuni generasi muda negeri ini menjadi generasi yang senang dengan keglamouran hidup semata, tetapi miskin dengan pembelajaran teknologi.

Simpulan dan Penutup

-    Budaya populer merupakan sebuah konsep yang menghasilkan suatu produk yang disebut yang banyak disukai orang. Keberadaan budaya populer sendiri awalnya merupakan wujud perlawanan terhadap kemapanan nilai-nilai budaya tinggi yakni budaya yang dihasilkan oleh kaum-kaum elite. Namun kini budaya populer sudah tidak lagi dianggap sebagai budaya rendahan karena segala lapisan kaum pun telah terpapar oleh produk budaya poluler.

-    Media massa berperan kuat dalam membentuk keragaman budaya baru yang dihasilkan,  yang sangat berpengaruh terhadap sistem nilai, pikir dan tindakan manusia. Berbagai macam gaya hidup telah direkonstruksi sedemikian rupa melalui beragam program acara yang mencerminkan kebohongan publik itu, hingga pada akhirnya dapat menimbulkan suatu kebohongan tersembunyi dan tanpa sadar telah menjadi bagian dari realitas kehidupan yang sebenarnya.

-    Kehidupan materialistik, hedonis, dan konsumtif, berdampak pada konsep martabat manusia telah mengalami pergeseran dari sesuatu yang bersifat inner menjadi sesuatu yang artifisial. Kebudayaan juga mengalami pergeseran sehingga yang menonjol dalam budaya populer adalah karakter instan, dangkal, egosentris, dan market oriented.

-    Budaya populer adalah budaya komersial dampak dari produksi massal (produk industrialisasi) yang dikonstruksikan dengan bantuan media massa, sehingga menciptakan trend dan popularitas.

-    Derasnya arus globalisasi telah mengubah cara masyarakat kita dalam berbudaya. Perlahan tetapi pasti, kebudayaan lokal mulai tergerus oleh kebudayaan luar yang menguasai.
Sebagai penutup, budaya populer yang berkembang di masyarakat kita ada yang memiliki sisi positif atau kebaikan namun tidak sedikit yang menyesatkan atau menjerumuskan. Hal ini dibutuhkan fungsi kontrol dengan pengetahuan tentangnya. Terpaan budaya populer serndiri juga tidak bisa lepas dari pengaruh media massa, maka dari itu kita harus terus melakukan filterisasi terhadap tayangan-tayangan media massa, dengan tujuan produk budaya populer tersebut tidak mengganti atau mengubah kepribadian kita. Suatu penanaman konsep ideologi ke dalam format acara melalui teks-teks media dan makna-makna yang ada di dalamnya serta praktik-praktik budaya telah melahirkan “kesadaran palsu” di dalam persepsi pemirsa. Mengutip pernyataan seorang ahli, bahwa “... sebagai bentuk keberhasilan konspirasi antara kapitalisme dengan budaya populer dalam memanipulasi kesadaran masyarakat dengan kesadaran semu,  kebudayaan industri merupakan satu bentuk dehumansasi lewat kebudayaan” (Graeme Burton, 2008).

Mari bertanya pada diri masing-masing, : masih ingin jadi agen budaya industri yang mengatasnamakan budaya populer? Selamat, anda jadi korban proses pembodohan.

Disusun oleh :  Lek MIKO
 

Mitos Masin : Legenda Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku

MITOS MASIN ; Legenda Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku
( Dilema antara Implementasi Etika dan Kodrati Erotika )
Oleh : Miko Thor

Ilustrasi Mitos

Sunan Muria ( Umar Said ) adalah salah satu tokoh terkenal sebagai penyebar agama Islam di Jawa dan salah satu anggota Wali Songo. Dalam menyebarkan ajaran agama, Sunan Muria mendirikan padepokan (pesantren) yang mengambil markas di salah satu pegunungan Muria (Desa Colo Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus – saat ini --) sekaligus tempat tinggalnya. Sebagai tokoh yang cukup memiliki pengetahuan terhadap ajaran-ajaran agama (Islam), Sunan Muria memiliki banyak murid yang datang berguru dari segala penjuru. Salah satu dari sekian banyak muridnya terdapat nama Rinangku (Raden Bagus Rinangku), seorang murid yang memiliki kepandaian di pesantren tersebut. Ketampanan dan kepandaian Rinangku menjadi daya tarik tersendiri yang membuat seorang putri Sunan Muria bernama Nawangsih (Raden Ayu Dewi Nawangsih) jatuh hati dan mendapat sambutan dari Rinangku. Keduanya menjadi sejoli yang sedang jatuh cinta. Mengetahui gelagat ini, Sunan Muria mulai khawatir dengan hal-hal yang tidak diinginkannya. Namun untuk melarang begitu saja hubungan kedua insan, hanya akan menurunkan kewibawaan Sunan Muria yang terkenal dengan seorang yang alim dan bijaksana. Maka dicarilah cara agar dapat menjauhkan hubungan tersebut dengan cara-cara yang lebih dapat diterima masyarakat. Kebetulan musim tanam padi telah berlangsung dan tanaman menjelang panen. Areal persawahan milik pesantren Sunan Muria sangat luas dan menjangkau sampai ke desa yang lain yakni Dusun Masin (Desa Kandangmas Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus –saat ini--). Persawahan di dusun Masin juga bersiap untuk panen. Dari kondisi ini, Sunan Muria memiliki ide untuk dapat menjauhkan hubungan asmara putrinya dengan Rinangku yang semakin hari semakin terlihat sangat dekat. Dikirimlah Rinangku ke dusun Masin mengemban tugas menjaga tanaman padi di persawahan agar tidak diserang hama atau burung-burung pemakan padi sehingga diharapkan hasil panen akan melimpah. Jarak antara desa Colo dan Masin cukup jauh dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Berangkatlah Rinangku ke dusun Masin untuk menjalankan tugas yang diembankan oleh gurunya, yang artinya dia harus berpisah dengan pujaan hatinya dalam jangka waktu yang tidak ditentukan karena Rinangku harus bertempat tinggal di dusun Masin. Dari hari ke hari, Dewi Nawangsih yang dilanda mabuk cinta pada kekasihnya (Rinangku) tidak kuasa menahan rindu yang kian hari semakin dirasakan menyesakkan dada. Dengan kenekatannya, Dewi Nawangsih kabur dari tempat tinggalnya berniat menyusul pujaan hatinya.

Kepergian Nawangsih dari rumah selama berhari-hari yang belum juga pulang, membuat ayahnya (Sunan Muria) menjadi murka. Sunan Muria curiga kepergian Nawangsih untuk menemui Rinangku yang memang dicintai putinya. Diutuslah beberapa santri (murid pesantren) ke dusun Masin untuk menyelidiki apakah Nawangsih benar-benar ada disana. Dugaan Sunan Muria sangat benar, beberapa murid yang mendatangi lokasi persawahan menjumpai kedua insan yang sedang mabuk kepayang sedang bermesraan melepas kerinduan di gubug (rumah-rumahan kecil tempat menjaga tanaman padi), hingga tidak menghiraukan burung-burung  memakan buah padi. Salah seorang dari murid utusan tersebut balik ke pesantren untuk melaporkan kejadian yang telah dilihatnya. Beberapa murid tetap tinggal dan menegur Rinangku. Terjadilah dialog :

“ Hei.. Rinangku… apa yang telah kau lakukan saat ini sungguh tidak pantas dan menodai ajaran-ajaran luhur yang telah disampaikan guru di pesantren”.

Rinangku membalas : “ Apa kesalahanku hingga kau berkata seperti itu? Aku sudah patuh pada tugas guruku untuk menjaga sawah ini walaupun hatiku sangat berat menjalani, tetapi tetap saja aku lakukan, bukankah ini menunjukkan kepatuhanku pada guru?”
Seorang murid kembali berkata : “Inikah yang kau katakan menjaga sawah? Lihatlah burung-burung itu pesta pora melahap tanaman padi milik kita, tapi kau tidak berusaha menghalaunya, tetapi kau malah asyik bermesraan dengan Nawangsih putri guru. Saya yakin guru akan murka jika mengetahui perbuatanmu ini”.

Rinangku kembali menjawab : “ Aku masih belum tahu apa kesalahanku. Aku disuruh menjaga sawah ini dan telah aku jaga siang malam walaupun tidur diatas gubug ini. Bukankah aku disuruh menjaga sawah? Bukan menjaga burung-burung? Jika memang burung-burung itu memakan padi, bukankah memang sudah memakannya? Apakah aku harus melarang burung-burung cari makan? Bagaimana jika nanti burung-burung itu kelaparan? Apakah aku tidak berdosa menjadi penyebab burung-burung itu kelaparan?” Rinangku masih menimpali, “ Mengenai persoalan cintaku dengan Nawangsih, apa hak kalian melarangku? Kami sudah dewasa dan mengerti bagaimana perasaanku. Mengapa kami harus dipisahkan? Kalian lihat sendiri bagaimana kekuatan cinta yang kami miliki, tak bisa dipisahkan dengan cara apapun. Kalian ikut mengurusi hubungan cinta kami, jangan-jangan kalian iri atau cemburu”.

Seketika merah padam muka para murid mendengar kata-kata Rinangku. Saking menahan marahnya mereka hanya diam dengan hati dongkol. Mau balik ke pesantren tetapi tugas yang diberikan gurunya belum mencapi hasil, mau tetap disitu tetapi hatinya marah. Maka beberapa murid masih tetap diam di lokasi sambil menunggu reaksi dari gurunya yaitu Sunan Muria.

Sementara itu, salah satu murid yang bertugas menyampaikan laporan telah sampai ke pesantren. Murid itu segera menceritakan apa adanya sesuai yang dilihat. Sunan Muria sangat murka mendengar penuturan muridnya perihal kelakuan salah seorang muridnya yaitu Rinangku dan juga putrinya yaitu Nawangsih. Bergegas, Sunan Muria bersama salah seorang murid yang tadi, menuju lokasi persawahan Masin  untuk melihat sendiri apa yang telah terjadi pada murid dan putrinya. Membawa senjata panah untuk mengantisipasi kemungkinan yang terjadi di perjalanan, Sunan Muria dengan muka bergetar menahan marah, sampai ke lokasi yang ditunjukkan salah satu muridnya. Benar saja, kini matanya melihat sendiri apa yang telah terjadi dihadapannya. Rinangku dan Dewi Nawangsih sedang asyik memadu kasih di atas gubug melepaskan semua hasrat kerinduan yang selama ini dipendam. Sedangkan di areal lain murid-muridnya diam mematung tak tahu apa yang harus dilakukannya. Dengan murka yang tak bisa dibendung lagi, dihunuslah satu anak panah diletakkan di busur siap dibidikkan ke sasaran. Dua insan yang sedang bergelora asmara tak menyadari apa yang tengah terjadi pada dirinya. Hanya teriakan kaget bercampur kesakitan tatkala mereka menyadari sebuah benda tajam menembus badannya. Dua tubuh yang sedang berpelukan itupun tak kuasa menahan laju anak panah yang menembus dada mereka berdua. Mereka kini jatuh terkulai dengan badan masih menempel karena tertembus anak panah. Mereka mengerang kesakitan menunggu ajal, dan teriakan kutukan-kutukan pun terjadi. Dikarenakan sudah tak kuasa lagi menahan amarah, Sunan Muria terlambat menyadari bahwa apa yang dilakukan baru saja telah menghabisi nyawa salah satu putrinya. Ia segera berlari menuju kedua jasad untuk memberikan pertolongan. Murid-muridnya yang berada disitu dipanggil agar turut membantu memberikan pertolongan. Namun justru yang didapati adalah situasi dimana para murid tersebut diam terpaku tak bisa berbut apa-apa karena shock mengalami peristiwa yang tak pernah dilihatnya seumur hidup. Sunan Muria menjadi marah lagi dan mngutuk para muridnya.

“ Melihat situasi ini, ternyata kalian hanya diam membisu saja, tak berbuat apa-apa. Dasar kalian. Kalian tak ubahnya seperti pohon-pohon di sekitar sini yang tak bergerak apa-apa melainkan hanya diam membisu..!”. Seketika para murid itupun berubah bentuk menjadi pohon-pohon yang mengelilingi areal tersebut. Dengan dibantu beberapa penduduk yang akhirnya datang mendengar kehebohan yang terjadi, maka jasad kedua manusia yang tertusuk anak panah, dimakamkan diarea tersebut hanya satu liang makam dengan posisi masih berpelukan.
(Sumber : legenda  yang beredar di masyarakat).

Fenomena Ritus

Malam Jum’at Wage, adalah hari keramat bagi orang-orang tertentu yang meyakini adanya berkah yang datang, yang berasal dari legenda Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku. Di hari (atau malam) tersebut, makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku yang terletak di kawasan Dusun Masin Desa Kandangmas Kecamatan Dawe Kudus dibanjiri pengunjung (peziarah) yang bermaksud akan mendapatkan kekuatan lebih terhadap segala usahanya selama ini agar berhasil, dengan melakukan ziarah (ritualisasi) di makam tersebut. Ratusan orang bahkan pernah mencapai ribuan pengunjung mendatangi makam secara perorangan maupun rombongan dengan berbagai harapan mendapatkan keberhasilan sesuai dengan kepentingan masing-masing. Istilah bagi masyarakat setempat dinamakan ngalap berkah. Kebanyakan yang melatarbelakangi harapan keberhasilan ini adalah demi kesuksesan usaha (wiraswasta, bisnis) dan sebagian kecil berupa kenaikan pangkat (bagi pegawai) serta kepentingan lain yang akhirnya turut menyertai. Mengacu pada penafsiran mitologi yang beredar dan populer di kalangan masyarakatnya, maka bentuk upacara ritualnya pun tergolong unik. Yakni, setelah melakukan penziarahan (memanjatkan doa yang dipimpin juru kunci makam), maka para pengunjung melanjutkan upacara ritual inti dengan melakukan hubungan intim (hubungan seksual) di sekitar areal makam tersebut dengan penziarah lain lawan jenis. Ritual sex inipun memiliki syarat-syarat tertentu, antara lain : pelaku ritual sex (laki-laki – perempuan) belum saling mengenal satu sama lain sebelumnya, hanya dilakukan satu kali saja oleh satu pasangan (yaitu di malam itu), keberhasilan yang diharapkan hanya dimiliki oleh satu orang saja dari setiap pasangan (bisa pihak laki-laki saja atau pihak perempuan saja), dan mengikat sebuah perjanjian yakni siapa dari pasangan tersebut yang menerima kesuksesan maka akan memberikan kontribusinya (bantuan materi) kepada pasangannya. Perjanijian ini bersifat mengikat (secara sugesti) secara periodik, dan memiliki sanksi (sugestif pula) bahwa yang melanggar perjanjian maka seluruh harta yang diperolehnya akan cepat habis dan kembali jatuh miskin.

Dari waktu ke waktu situs makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku semakin ramai dikunjungi orang. Pengunjung datang dari berbagai kota terutama sekitar Kudus, seperti Jepara, Demak, Pati dan Grobogan. Pada hari-hari biasa (diluar malam Jum’at Wage) juga sering ditemui orang-orang yang melakukan ziarah walaupun tidak banyak. Namun peziarah di hari-hari biasa tidak melakukan ritual sex. Hanya di malam yang telah ditentukan yakni malam Jum’at Wage ritual sex diperbolehkan.
‘Kekeramatan’ makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku sangat diyakini oleh penduduk setempat ( dusun Masin). Hal ini terlihat pada disetiap acara yang diselenggarakan (hajat penduduk) seperti kelahiran, khitanan, perkawinan atau hari-hari yang dianggap memiliki momen khusus penduduk setempat memberikan persembahan berupa makanan di makam tersebut. Jenis makanan yang dipersembahkan biasanya berupa ingkung (ayam secara utuh yang telah dimasak) dan diberikan kepada juru kunci  untuk dipanjatkan doa. Disamping itu, makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku juga menyisakan kekeramatan lain berdasar mitologi, yakni larangan menebang pohon yang berdiri di lokasi makam apapun kepentingannya, yang barangsiapa berani melanggarnya akan menerima kutukan bencana. Larangan ini sangat dipatuhi oleh penduduk setempat hingga saat ini.

Problematika dan Dilema

Keyakinan masyarakat terhadap makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku yang dianggap memiliki kekeramatan tersendiri menimbulkan lokasi makam ini banyak dikunjungi orang. Pada hari-hari biasa dan boomingnya pada malam Jum’at Wage dimana puluhan  dan bahkan pernah mencapai angka ratusan pengunjung memberikan dampak yang dianggap positif maupun pengaruh yang lain berupa pergeseran-pergeseran makna. Dampak ekonomi kerakyatan misalnya, terdapat pada kesempatan bagi para penduduk setempat untuk membuka warung-warung yang menyedikan makanan dan minuman, atau membuka lahan parkir kendaraan (penitipan motor atau mobil) bagi kebutuhan para pengunjung yang datang. Dari sektor ini, membuka peluang usaha bagi masyarakat (setempat) yang tentunya memberikan keuntungan secara ekonomi. Bagi pemerintah desa setempat uang kas yang terkumpul (retribusi) dari para pengunjung memberikan kontribusi yang lumayan bagi pendapatan desa.
Keragaman kepentingan dari banyaknya pengunjung mulai dari yang memang benar-benar melakukan ritual, sekedar melihat, iseng dan lain-lain membawa pengaruh yang lain pula bagi perkembangan eksistensi makam ini. Keramaian yang tercipta dengan berbagai motivasi inilah yang kemudian juga turut dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu demi kepentingannya sendiri, yaitu munculnya kelompok pekerja seks komersial. Mula-mula para penjaja tubuh ini berkedok sebagai pengunjung biasa dalam menggaet mangsanya. Namun, lama – kelamaan aksi ini menjadi semakin terang-terangan atau vulgar dan bahkan menjadi sulit dibedakan mana yang pengunjung ritual dan mana yang penjaja seks komersial. Salah satu persoalan inilah yang kemudian menimbulkan distorsi bagi citra ritualisasi di makam Dewi Nawangsih – Bagus Rinangku.

Proses perkembangan pemikiran manusia (masyarakat) melalui pendidikan, ekonomi, maupun kesadaran agama, yang cenderung bersifat pragmatis, tekstual dan terukur menjadikan posisi dilematis bagi masyarakat dalam menghadapi persoalan-persoalan yang bersifat kebudayaan. Pada realitas tertentu, fenomena yang terjadi pada sebuah tradisi walaupun berisi ritus sex misalnya, tentunya memuat kandungan nilai-nilai local wisdom (kearifan lokal) yang mestinya dapat ditelusuri sebagai bahan pemikiran, perenungan dan aplikasinya pada pola-pola tindakan. Sedangkan pada realitas yang berlawanan masyarakat dihadapkan pada norma, aturan dan hukum (moral maupun positif) yang darinya memberikan kekuatan ‘memaksa’ bagi masyarakat untuk mematuhinya. Posisi dilematis  akan menjadi persoalan tersendiri manakala masyarakat dihadapkan pada konsekuensi memilih, dimana masyarakat itu sendiri memiliki keyakinan kedua realitas tersebut sama-sama dibutuhkan demi kelangsungan dan keteraturannya. Masyarakat haya disodori pada sebuah pilihan tanpa upaya-upaya pencarian solusi. Pilihan hanya menghasilkan konsuekensi realitas yang satu akan menghapus atau menghilangkan realitas yang lainnya.

Kearifan lokal barangkali perlu dibangkitkan kembali untuk mengurai persoalan-persoalan yang berkaitan dengan dilematika masyarakat terutama yang berhadapan dengan nilai tradisi dan nilai moralitas. Putus asa dan harapan, moral dan tindakan, erotika dan etika adalah proses alamiah yang selalu dijalani setiap manusia. Ironisme senantiasa hadir di depan mata : semangat menjalani kehidupan pluralitas senantiasa dikobarkan, pada saat yang sama pemaksaan terhadap satu keyakinan juga ditanamkan.

Etika dan Erotika

Etika yang berarti "timbul dari kebiasaan" (Yunani Kuno: "ethikos") adalah sesuatu dimana dan bagaimana mempelajari nilai atau kualitas mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti : baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam pendapat-pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu, objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif. Dengan kata lain, etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.

Sedangkan erotika atau erotisme dihubungkan dengan tindakan atau ekspresi yang dimunculkan oleh tubuh sedemikian rupa yang dapat menggugah hasrat birahi atau seksualitas. Walaupun kesan dangkal selalu tak terhindarkan, namun erotika bisa menjadi media untuk menghidupkan perasaan, untuk mengekspresikan dan menyatakan dirinya. Kemarahan pada nasib, protes terhadap ketidakadilan hidup, dan ironisme kenyataan.

Kekayaan tradisi yang dimiliki bangsa telah menunjukkan bagaimana raga dirayakan tanpa meninggalkan ruh, atau sensualitas diekspresikan tanpa menghilangkan kesakralan.  Di setiap masa dan di tiap tempat, raga dan erotika akan terus dirayakan dan punya ruangnya sendiri untuk tampil. Perayaan itu adalah bagian yang sah dan alamiah dari ekspresi manusia, dan dengan jalan seperti itu hidup dianggap menemukan detaknya kembali. Tetapi yang menyedihkan, adalah senantiasa ada orang-orang yang cemas dan jijik dengan semua itu. Mereka menolak kodratnya sendiri, dan kemudian dengan membabi buta bernafsu memberangus ekspresi-ekspresi erotika tersebut.
Memahami perilaku sosial, tidak bisa dengan menggunakan paradigma hukum saja, baik itu hukum moral (agama) atau hukum positif (negara). Hal itu hanya akan menimbulkan benturan dengan nilai-nilai sosial masyarakat yang notabene memiliki sistem sendiri. Menghadapi persoalan seperti dimaksud yang perlu dilakukan adalah memahami apa yang ada di balik peristiwa tersebut.
Dalam masyarakat Jawa terdapat kepercayaan tentang adanya suatu kekuatan yang melebihi, sebagai misal : kesaktian, arwah atau roh leluhur dan makhluk-makhluk halus. Dalam kerangka inilah ritus dikonstruksi, dijalankan dan direproduksi melalui modifikasi-modifikasi. Keberadaan ritus secara keseluruhan telah menunjukkan makna itu sendiri, baik secara keberadaannya langsung maupun makna-makna yang bersifat simbolik. Makna hanya dapat ‘disimpan’ di dalam symbol yang mengacu pada ‘sesuatu yang lain (yang melampaui)’. Dari hal inilah, ritus dapat menambah kenyamanan sekaligus merefleksikan solidaritas sosial dimana sendi-sendi kesadaran kolektif dijadikan kekuatan.
Masyarakat (terutama Jawa) memiliki suatu kecenderungan untuk menilai kebenran tidak secara hitam putih serta tidak menilainya dengan klaim bahwa kebenaran hanya ada dalam satu kepercayaan saja.

Tatkala modernitas mengantarkan pada kebutuhan pragmatis, maka dibutuhkan upaya perenungan dan penghayatan terhadap nilai-nilai tradisi yang kaya makna – makna keselarasan. Keselarasan dapat dimaknai sebagai kemampuan manusia untuk mengatur keseimbangan emosi dan menata perilaku yang tidak menimbulkan keguncangan. Perilaku ini termanifestasikan dalam sikap hidup, yaitu : saling menjaga diri, menjaga cipta, rasa, karsa dan tindakan. Nilai-nilai ini dapat menjadi acuan agar masyarakat senantiasa anggun dalam melantunkan kidung hidupnya walaupun terjadi ritme-ritme yang riuh dan gaduh. ----Tinggal bagaimana menjiwainya----

Senin, 25 November 2013

KEBUDAYAAN : MANUSIA DAN KEBUTUHANNYA

Pendahuluan

Istilah Budaya hanya dapat berlaku atau diberlakukan dalam kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang memiliki akal pikiran, maka manusia secara individu memiliki kemampuan untuk mengembangkan pemikiran sekaligus upaya untuk mewujudkannya yang dari waktu ke waktu berkembang sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Sebagai makhluk yang berkelompok (sosial), manusia senantiasa memikirkan dan mengupayakan bagaimana sedapat mungkin mewujudkan kelompoknya (masyarakat) berjalan teratur, serasi yang akhirnya dapat dinikmati bersama-sama. Maka lewat proses kebudayaan, lahirlah apa yang pada akhirnya disebut sebagai bahasa, mata pencaharian, norma/hukum, kesenian, upacara adat, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya yang berkembang dari masa ke masa menyesuaikan tingkat kebutuhan masyarakat itu sendiri. Hal ini yang membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lain, (binatang sebagai misal) yang dalam mewujudkan kebutuhannya bersifat stagnan dan naluriah saja. Jadi dapat dikatakan, faktor dasar yang menjadi nilai pembeda antara manusia dengan makhluk hidup lainnya terdapat pada kebudayaannya.
Pengertian mengenai  kebudayaan (culture) sangatlah kompleks, masing-masing ahli merumuskan dengan kalimat yang berbeda walaupun menuju ke pengertian umum yang sama, yaitu sebagai pengembangan akal budi manusia. Dalam istilah Inggris, ‘budaya’ dibahasakan sebagai “Culture” dengan mengambil istilah Latin “Colere” yang berarti : bercocok tanam. Untuk konteks Indonesia,  “Budaya” berasal dari bahasa Sanskerta yaitu, buddhaya  yang merupakan bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sehingga dalam kegiatan tertentu, budaya identik dengan pengistilahan budi daya.  Secara umum, Budaya dapat diartikan sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia. Dalam perkembangannya, definisi budaya dapat diartikan sebagai pandangan hidup tertentu dari masyarakat, periode, atau kelompok tertentu.

Beberapa hal yang tumbuh dari perjalanan manusia untuk memenuhi kebutuhannya, melahirkan dorongan - dorongan yang memunculkan terjadinya kebudayaan. Faktor – faktor yang menimbulkan terjadinya kebudayaan, diantaranya :

1.    Manusia dan Cinta Kasih

Di dalam hidupnya, manusia selalu menggantungkan diri dengan sesamanya. Dari sikap saling ketergantungan inilah, timbul rasa saling membantu sebagai perwujudan dorongan rasa “cinta kasih” terhadap satu sama lain. Definisi ‘cinta kasih’ secara harfiah sebagai kebutuhan manusia memang sulit diartikan. Namun secara sederhana ‘cinta kasih’ dapat diterjemahkan sebagai kebutuhan tingkat dasar untuk mewujudkan bentuk kepuasan, ketentraman dan perkembangan bagi diri sendiri maupun sesama. Manusia dengan kesadarannya, memahami bahwa mustahil dapat hidup sendiri. Dari tingkat ini, maka terjadilah jaringan komunikasi yang bersifat dialogis untuk melakukan sesuatu demi mewujudkan cita-cita bersama. Terjadilah kelompok-kelompok manusia yang hidup saling bantu membantu dalam menyediakan kebutuhannya, seperti : penyediaan makanan (berburu, meramu dan bercocok tanam) serta penyediaan tempat tinggal yang dilaksanakan secara bersama. Demikian pula, karena dorongan “cinta kasih” ini pula, antara satu manusia dan manusia lain, memunculkan sifat dan sikap saling memberi, saling memperhatikan dan saling menjaga.



2.    Manusia dan Keindahan

Pemahaman manusia terhadap kenyataan alam semesta yang indah, memunculkan rasa untuk mewujudkan atau mencipta bentuk keindahan dalam ruang yang lain. Proses perwujudan keindahan ini, dilakukan dengan jalan kontemplasi dan cara-cara penghayatan yang dimiliki. ‘Kontemplasi’ adalah suatu proses perenungan mendalam atau berfikir penuh untuk mencari nilai-nilai, makna, manfaat dan tujuan suatu hasil penciptaan. Pengertian tersebut bersumber pada berbagai kenyataan dalam kehidupan sehari-hari yang hakikatnya selalu menghendaki perubahan. Manusia memahami kebutuhan keindahan ini tidak hanya semata – mata bagi dirinya sendiri, namun juga diperuntukkan bagi ‘kekuatan lain’ diluar dirinya. Agar terdapat keselarasan antara ‘alam’ sebagai penyedia bahan kebutuhan dengan manusia yang memanfaatkannya, maka ‘alam’ juga dipandang layak untuk diberikan persembahan akan hal-hal yang bersifat keindahan sebagai rasa timbal balik. Dalam tindakannya, berwujud pada hasil karya atau cipta seni yang diperolehnya melalui persepsi terhadap fenomena kebudayaan. Hasil karya atau cipta seni tersebut berkembang menjadi cabang – cabang kesenian sesuai dengan bentuk yang diciptakan dan media yang dipergunakan.

3.    Manusia dan Pandangan Hidup

Dalam menjalani kehidupannya, ternyata manusia mengalami beberapa persoalan seperti : Kegelisahan, Penderitaan, Keadilan dan Harapan. Pada permasalahan seperti ini, manusia memiliki keinginan-keinginan sebagai pembebasan persoalan yang dianggapnya sebagai penghambat dan menumbuhkan cita-cita tertentu sebagai bentuk harapan akan munculnya kebahagiaan. Dalam menghadapi masalah, hambatan, tantangan dan gangguan tersebut, manusia membutuhkan suatu pelindung. Sedangkan cita – cita atau harapan kepada kebaikan, ketentraman dan kebahagiaan disadari tidak datang begitu saja melainkan harus ada upaya pelaksanaannya baik secara pribadi maupun bersama pihak lain. Prinsip – prinsip tersebut pada akhirnya disebut sebagai ‘pandangan hidup’. Bagaimana memperlakukan pandangan hidup bergantung pada masing-masing manusia yang bersangkutan. Pandangan hidup yang muncul dan tujuan yang bervariasi ini karena pada dasarnya manusia memiliki banyak hal yang berkaitan dengan dirinya. Ada yang memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencapai tujuan, dan ada yang menggunakannya sebagai penimbul ketentraman, kesejahteraan maupun kebahagiaan. Pada implementasinya, muncul kebudayaan yang berkembang menjadi : - keyakinan (agama), yaitu pandangan hidup yang dianggap mutlak kebenarannya, - ideology, yaitu pandangan hidup yang disesuaikan dengan norma setempat (wilayah, negara), dan – renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

4.    Manusia dan Tanggungjawab

Sebagai makhluk individu dan juga makhluk sosial dimana setiap perbuatan yang dilakukan memiliki hubungan dengan pihak lain, maka konsekuensi yang dihadapi manusia adalah hak dan kewajiban. Agar tercapai keselarasan dalam pelaksanaan hak dan kewajiban, maka diperlukan sikap untuk senantiasa menjaga komitmen yang telah dibuat melalui bentuk yang disebut “tanggung jawab”. Tanggung jawab muncul karena konsekuensi adanya komitmen yang disepakati sebelumnya dan wewenang yang telah diatur bersama. Secara pengertian umum, ‘tanggungjawab’ adalah “kewajiban dalam melakukan tugas tertentu”. Atau “sesuatu yang menjadi keharusan untuk dilaksanakan dan dibalas secara timbal balik”. Dalam perkembangan kebudayaan manusia sesuai dengan eksistensinya, maka bentuk tanggung jawab terkategori menjadi : - tanggung jawab terhadap diri sendiri, - tanggung jawab terhadap keluarga, - tanggung jawab terhadap masyarakat, dan - tanggung jawab terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Agar dalam bertindak, manusia senantiasa berada dalam koridor tanggung jawab, maka diperlukan sistem kontrol sebagai bentuk kesepakatan untuk dipatuhi bersama berupa : norma – norma etika maupun produk-produk hukum.


Penutup

Dapat disimpulkan secara umum, kebudayaan adalah hasil cipta, rasa dan karsa yang berasal dari, oleh dan untuk manusia beserta lingkungannya demi tujuan positif yang dapat dirasakan bersama. Sesuatu yang bersifat positif adalah sesuatu yang bersifat membangun. Maka berkebudayaan adalah upaya melakukan pembangunan baik secara fisik maupun mental atau jasmani dan rohani. Kebudayaan tidak lain adalah usaha dasar manusia untuk menciptakan kondisi hidup yang lebih baik. Kebudayaan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya dan secara serentak terjadi pula dinamika masyarakat dengan segala perubahan ataupun pergeseran sistem nilai budaya. Maka sebagai manusia yang berbudaya, maka sudah semestinya mampu menjaring mana yang lebih positif untuk pembangunan fisik dan mental masyarakat dan mana yang tidak sesuai untuk diterapkan. Budaya memiliki satu makna dengan adab. Oleh karena itu, manusia dianggap berkebudayaan jika olah cipta, rasa dan karsanya menuju pada hal-hal yang beradab bukan pada hal yang sebaliknya. Pada konteks inilah, manusia memiliki ‘nilai pembeda’ dengan makhluk yang lain.

Minggu, 24 November 2013

BELAJAR MEMAHAMI FILSAFAT

Filsafat, (philosophia), secara etimologis berarti cinta kebijaksanaan. Secara umum, berfilsafat berarti usaha manusia untuk mengetahui, memahami segala sesuatu. Garis besar pengetahuan dan pemahaman yang dipelajari meliputi logika (benar – salah), etika (baik – buruk), estetika (indah – jelek).

Untuk kemudahan memahaminya dapat dimulai dengan pengenalan tokoh-tokoh beserta teorinya secara periodik dan beberapa istilah yang menyertainya. Istilah penting untuk hal dimaksud diantaranya : Ontologi (ilmu yang mempelajari darimana asalnya “ada”), Epistemologi (ilmu yang mempelajari darimana asalnya “pengetahuan”), Aksiologi (ilmu yang mempelajari tentang nilai/value dari sebuah pengetahuan).

I.    Ontologi

A.    Filsafat Alam (Kosmologi).

Disebut sebagai Filsafat Alam karena para pemikir yang menyelidiki menyatakan bahwa asal segala sesuatu berasal dari alam.
-    Thales (624 – 548 SM)        : Intisari atau dasar dari alam semesta berasal dari air.
-    Anaximandros            : Asal dari alam adalah zat yang tidak tentu sifatnya.
-    Anaximenes (590 – 528 SM)    : Asal dari segala sesuatu adalah udara.
-    Pitagoras (     - 532 SM)        : Asal dari segala sesuatu adalah bilangan.
    Filsafat Menjadi (Change).
Disebut Filsafat Menjadi karena dinyatakan bahwa realitas yang sesungguhnya adalah sesuatu yang bergerak, mengalami perubahan hingga akhirnya ‘menjadi’.
-    Herakleitos (535 – 475 SM)    : Segala sesuatu tak ada yang tetap. Semua mengalir (pantha rhei). Satu-satunya realitas adalah perubahan hingga ‘menjadi’.
    Filsafat Ada (Being).
Disebut Filsafat Ada karena dinyatakan bahwa realitas sudah ‘ada’ lebih dulu. Setiap perubahan adalah sesuatu yang semu.
-    Parmenides (540 – 475 SM)    : Diluar “ada” tentulah “tak ada”. Maka realitas hanyalah ‘yang ada’, diluar itu merupakan sesuatu yang semu atau tak bisa dipercaya.
-    Empedokles (490 – 435 SM)    : Setiap benda adalah penggabungan dari unsur Api, Tanah, Air, Udara. Keempat unsur inilah yang merupakan dasar terakhir dari segala sesuatu. Proses ini terpelihara oleh dua kekuatan yang saling bertentangan yaitu Cinta dan Benci. Cinta merupakan energi yang menyatukan sedangkan Benci merupakan energi yang mencerai-beraikan.
-    Anaxagoras (499 – 428 SM)    : Segala sesuatu adalah penggabungan dari banyak unsur (spermata) yang bejenis-jenis sifatnya.
-    Democritus (460 – 370 SM)    :  Segala sesuatu terjadi akibat tindakan atom (partikel yang tak dapat dibagi lagi) yang berkumpul menjadi satu sehingga menjadi benda.

Pertentangan antara Filsafat Menjadi dengan Filsafat Ada tak terdapat penyelesaian karena masing-masing pendapat sama kuat argumentasinya.

B.    Filsafat Manusia (Anthropologi)

Periode berikutnya, teori tentang alam sebagai dasar dari segala sesuatu mulai bergeser bahkan dimentahkan dengan adanya pemikiran bahwa “manusia adalah pusat dari alam semesta”. Untuk selanjutnya, pemikiran-pemikiran mengenai segala sesuatu fokus pada manusia dengan segala pikiran dan tingkah lakunya.

-    Socrates (469 – 399 SM)    : Pengertian sejati berpusat dari manusia dengan segala pikiran dan tingkah lakunya. Dalam kesadaran manusia, barangsiapa mempunyai pengertian dan pengetahuan maka akan mengetahui realitas dankebajikan.

-    Plato (427 – 347 SM)         : Dunia terdiri dari dua macam, dunia pengalaman dan dunia idea. Realitas sejati adalah dunia idea, sedangkan dunia pengalaman adalah bayang-bayang dari idea.
-    Aristoteles (384 – 322 SM)    : Realitas adalah kesatuan antara bentuk dan isi. Tanpa bentuk, sesuatu tak berarti apa-apa. Demikian pula tanpa isi, bentuk tak memiliki nilai apa-apa.
Ajaran Aristoteles pada akhirnya dikenal sebagai Hulemorfisme. Hule berarti bentuk (ekstensi), sedangkan Morfe berarti isi inti (essensi). Realitas adalah penggabungan dari kedua unsur tersebut.

Pada masa ini, sepertinya telah usai perdebatan mengenai realitas. Perkembangan pemikiran filsafat hanyalah merujuk dari pendapat tokoh-tokoh tersebut sehingga terjadi aliran-aliran yang disebut neo seperti Neoplatonis, Neoaristotelians.

Sementara itu, Kristen berkembang di Eropa sejak abad 1 M dan mengalami puncaknya pada abad 3 M ketika kaisar Romawi yang berkuasa menyatakan Kristen sebagai agama resmi kerajaan. Sejak saat itu, pemikiran-pemikiran filsafat Yunani mulai diberantas dan digantikan dogma-dogma Kitab Suci. Segala pemikiran haruslah yang disetujui oleh pihak Gereja. Sampai dengan abad 12 M, Eropa disebut mengalami ‘masa kegelapan’ bagi pemikiran-pemikiran. Beberapa ahli pikir dan ilmuwan seperti Giordano Bruno, Nicholas Copernicus, Galilei Galileo harus berhadapan dengan hukuman mati atau kurungan karena dianggap tidak sesuai dengan doktrin Kitab Suci.

II.    Epistemologi

Masa kegelapan bagi kemajuan pemikiran yang berlangsung lama di Eropa (1200 tahun) membuat resah masyarakat Eropa. Hal ini ditambah dengan munculnya filsuf-filsuf Arab dan Andalusia (Islam) yang mendominasi ilmu pengetahuan. Nama-nama seperti Ibnu Sina, Al Kindi, Al Khawarizmi, Al Jabar, Ibnu Rusyd, hadir sebagai pemikir-pemikir baru yang memberikan sumbangsih bagi ilmu pengetahuan. Yang membuat semangat masyarakat Eropa kembali bangkit adalah ketika diketahui ternyata filsuf-filsuf Islam tersebut ternyata mempelajari dan mengembangkan pemikiran Aristoteles. Masyarakat Eropa akhirnya bangkit semangatnya untuk mempelajari dan mengembangkan kembali pemikiran-pemikiran terdahulu dan mulailah periode yang disebut Renaissance (lahir kembali pemikiran Yunani).
A.    Rasionalisme

Paham yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan berasal dari pikiran.
-    Rene Descartes (1596 – 1650)    : Cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada).
-    Baruch Spinoza (1632 – 1677)    : Untuk mencapai kebahagiaan maka manusia harus rasional.
B.    Empirisme

Paham yang berpendapat bahwa ilmu pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi.
-    John Locke (1632 – 1704)    : Manusia dilahirkan ibarat ‘kertas kosong’ (tabula rasa). Pengalaman inderawi yang memberikan pengetahuan. Tiap pengetahuan adalah hasil dari sensation dan reflection.
-    David Hume (1711 – 1776)    : Seluruh pengetahuan adalah jumlah pengalaman. Apa saja yang merupakan pengetahuan hanya disebabkan oleh pengalaman. Substansi hanyalah anggapan, khayalan. Yang ada hanyalah Impression.

C.    Kriticisme – Fenomenalis

Pertentangan antara Rasionalisme dan Empirisme tidak membuahkan kesimpulan mana yang menjadi penentu awal pengetahuan yang benar, karena msing-masing memiliki kelemahan-kelemahan.
-    Imannuel Kant (1724 – 1804)    : Das ding an sich (realitas benda ada pada benda itu sendiri). Kebenaran realitas benda itu tidak dapat dikenali, yang dapat dikenali hanyalah gejala-gejalanya (fenomena) saja. Pengetahuan hanyalah pada yang tampak bukan pada yang nyata.

Teori-teori Imannuel Kant sepertinya mengakhiri pertikaian antara kubu rasionalisme dan empirisme. Perkembangan pemikiran kemudian merujuk pada teori Kant yang kemudian dikembangkan dalam mencari realitas kebenaran. Manusia semakin tinggi kedudukannya sebagai ‘pusat semesta’.
•    Dialektis

-    G. W.F. Hegel (1770 – 1831)    : Idea adalah gerak yang menimbulkan gerak lain. Gerak awal disebut thesis yang menyebabkan gerak lain yang bertentangan yaitu antithesis yang pada akhirnya menimbulkan gerak kesimpulan yang disebut synthesis. Synthesis di perkembangannya akan menjadi thesis baru lagi yang menyebabkan gerak baru lagi. Begitu seterusnya. Proses ini disebut Dialectika. Realitas kebenaran hanya terdapat pada ‘ruh sejarah’ yang menyertainya yang meliputi ruang dan waktu.
•    Positivis

-    A. Comte (1798 – 1857)    : Kebenaran adalah sesuatu yang harus dapat diukur. Segala sesuatu haruslah yang sudah tertentukan sebab akibatnya yang nyata.
•    Evolusionis

-    Charles Darwin (1809 – 1882)    : Proses realitas semesta adalah proses gerak mekanik alam sehingga menjadi. Manusia adalah hasil proses tertinggi dari perkembangan dari keteraturan hokum mekanika alam tersebut.
•    Eksistensialis

-    S. Kierkegaard (1813 – 1855)    : Keberadaan manusia berarti sepenuhnya ‘ada’. Karena kemauannya yang merdeka menjadikan manusia adalah subyek yang kongkrit dan selalu ‘ada’. Kebenaran tidaklah berada di system yang umum melainkan terdapat pada eksistensi individual.
•    Materialisme Historis

-    Karl Marx (1818 – 1883)    : Hidup manusia ternyata ditentukan oleh keadaan ekonomi. Segala hasil tindakan manusia dan pengaruhnya terhadap dunia hanyalah endapan dari keadaan tersebut dan telah tertentukan oleh sejarah. Agar bisa menjadi masyarakat ideal, maka harus dihapuskan tingkatan-tingkatan kelas yang terjadi dalam masyarakat.

•    Psiko Analisis
-    Sigmund Freud (1856 – 1839)    : Tindakan manusia disebabkan oleh pengalaman-pengalaman yang disimpan dalam memori alam bawah sadar. Tingkatan alam bawah sadar terdiri atas id, ego, super ego dimana akan terjadi pertentangan yang menghasilkan tindakan sesuai dengan diri dan kebutuhannya.


Perkembangan berikutnya adalah percabangan-percabangan filsafat dan ilmu pengetahuan yang mengembangkan dari ajaran-ajaran sebelumnya, seperti pragmatisme, strukturalisme, fenomenologi, psikologi dan berkembang lagi menjadi ilmu-ilmu pengetahuan secara spesifik yang terdapat dalam bidang-bidang pengajaran akademik.

Diracik oleh : Lek Miko

Kamis, 21 November 2013

Tentang Komunitas Seni Samar

Tentang Samar


Komunitas Seni Samar berdiri pada tanggal 1 maret 1998, di BIPP (Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian  yang sekarang beralih fungsi menjadi Taman Ternak Kudus) Desa Besito kecamatan Gebog Kabupaten Kudus.

Para Penggagas berdirinya Komunitas Seni Samar :   
      
1.    Gunadi Siswo Nugroho (Aktor,Pengajar Teater, Pekerja Film)
2.    Farid (Aktor, Pengajar Teater, Pekerja Film dan Sinetron)
3.    Sutrisno Hadi Pete (Pekerja Teater dan Aktor Sinetron)
4.    Warih Bayu Wicaksono Amd. (Pantomimist, Pekerja film)

Dalam perjalanannya, Komunitas Seni Samar yang pada awalnya beranggotakan anak – anak sekolah yang secara rutin berproses kreatif, sehingga menghasilkan karya – karya yang dapat di apreasiasikan pada masyarakat. Sudah berbagai tempat di Kudus dan kota – kota sekitarnya menjadi media apreasiasi, dari trotoar jalanan, tempat orang punya hajat hingga gedung DPR. Dalam proses kreatifnya, Komunitas Seni Samar banyak menggunakan karya – karya sendiri namun sering juga menggunakan beberapa karya dari seniman besar lainnya.

Jejak Samar


1998


April,  Lingkaran Api karya  Farid di Taman Ternak Kudus
Juni, Aqua D’Marcia karya Leo Katarsis di SLTP N 2 Gebog Kudus
Agustus, Graphito Karya Akhudiat di Balai Desa Gondosari Kudus
Desember, Kereta Kencana karya Eugene Unesco

1999


 Maret, Hitam karya Leo Katarsis di SMU PGRI 2 Kudus
Juli, Mas Dukun karya MH. Ainun Najib di balai desa Purwosari Kudus
November, Teatrikalisasi puisi “Nyanyian Angsa“ karya W.S. Rendra di Gedung KNPI Kudus

2000


Januari, Ambang (Happening art 8 jam) karya Leo Katarsis di Balai Desa Besito Gebog Kudus
April, Prematur karya Leo katarsis di Aula GOR Kudus
Juni, Jram karya Mophet sK di Bumi Perkemahan Abiyoso Menawan Kudus
Agustus, Marabahaha… karya Leo Katarsis  di Hajatan Sdr. Nasir Ds. Daren Jepara
Desember, Kayu Api karya Leo Katarsis di DPRD Kudus

2001


Maret, Malam Jahanam karya Motinggo Busye di Gedung Sedayu Lawas Brondong, Jatim
April, Pulang karya Leo Katarsis di Lare’s Dramatic Centre Tegal, Jateng
April, Malam Jahanam karya Motinggo Busye di Gedung Dinas P&K Kendal, Jateng
Mei, Pulang karya Leo Katarsis di Joglo Paramesthi (IKIP PGRI) Semarang, Jateng
Juli, Malam Jahanam karya Motinggo Busye di Pantai Bagusan Jepara, Jateng
Agustus, Pulang karya Leo Katarsis di Gedung KNPI Kudus
November, Pulang karya Leo Katarsis di UNDARIS Kudus

2002


Februari, Pulang karya Leo katarsis di Hajatan Sdr. Nasir Daren Jepara
Maret, Pulang karya Leo Katarsis di Trotoar Matahari Kudus
Agustus, Pulang karya Leo Katarsis di Perempatan jalan Ds. Besito Gebog Kudus
Oktober, Jaring Laba-laba karya Samar di Gedung JHK Kudus

2003


Maret, Upacara Senja karya Samar di DPRD Kudus
Mei, Hah! ! karya Bayounk Wewe di STAIN Kudus
Agustus, Opera kaos Kaki karya Mophet sK di Audit UMK Kudus
Desember, Opera Kaos Kaki karya Mophet sK di Gedung Wanita Jepara

2004


Maret, Badut Ulang Tahun karya Teater Samar di BIPP Kudus
Agustus, Upacara Senja karya Teater Samar di Auditorium UMK

2006


Maret, Wabah Atawa Bencana karya Leo Katarsis di Aula Dipenda  Kab. Kudus
Agustus, Gelar Budaya ‘Pembebasan Tradisi‘ di Alun – alun Simpang Tujuh Kudus

2007


Maret, Seminar Kebudayaan  ‘Akulturasi Islam – Hindu di Jawa : Menara Kudus‘ di UMK Kudus
Maret, Rona 2 karya Moppet sK di Taman Ternak Kudus
Maret, Setan karya Putu Wijaya di Taman Ternak Kudus
Mei, Dalam Bayangan Tuhan karya Arifin C. Noer di Auditorium UMK Kudus

2008


Maret, Metamorphosa Cinta karya Mophet sK di Padepokan Seni Murni Asih Kudus
April, Front Utara Eksebisi di Lapangan parkir Universitas Muria Kudus
Juli, Festival Pati Ayam bersama Art Muria Forum di desa Pati Ayam Kudus
Agustus, Karnaval Budaya Visualisasi Dandhangan di Alun – alun SimpangTujuh Kudus
Oktober, Shadow of The Day karya Leo Katarsis di Padepokan Seni Murni Asih (Pasma) Kudus

2009


Juli, Lullaby ‘Obituary Sang Penari karya Mophet sK di Padepokan Seni Murni Asih Kudus
Agustus, Teatrikal puisi ‘Nyanyian Angsa dalam Mini kata dalam Malam Mengenang ‘Sang Burung Merak’ WS Rendra di Padepokan  Seni Murni Asih Kudus
Desember, Art Perform ‘Pusaran’ karya Leo Katarsis dalam Mimbar Budaya untuk Keadilan di 
Halaman Gedung DPRD Kudus.
Desember, Art Perform ‘ Obituari Sang Penari’  karya Mophet sK di Museum Kartini Jepara

2010


Maret, Kentrung Kontemporer Nawangwulan Underpleasure di Gedung Ngasirah Kudus.
April, Rona III Karya Mophet sK, mengenang 1000 hari wafatnya Pramudya Ananta Toer di Blora.
Mei, Rona III karya Mophet sK, Di Pasma Kudus
Agustus, Karnaval Budaya “Samar Art Performing” di Alun-alun Kudus

2011


Februari, Pentas Kolaborasi Dongeng Selepas Hujan karya Leo Katarsis di Olah – Olah Padepokan Seni Ds. Dersalam Kudus
April, Pentas Kolaborasi Teater Perempuan bersayap Terang di Olah – Olah Padepokan Seni Ds. Dersalam Kudus
Mei, Pentas Kolaborasi AM karya Mophet sK dalam Sapabudaya di OOPS Kudus
Juli, Pentas Kolaborasi Dongeng Taman Utopia karya Abimanyu Ianocta P. dalam Ultah OOPS di Olah – Olah 
Padepokan Seni Ds. Dersalam Kudus
Juli, Karnaval Dhandangan ‘Samar Art Perform’ di Alun – alun simpang Tujuh Kudus
September, Karnaval Budaya Ritual mBulusan di Ds. Jekulo Kudus
November, Kolase Cinta karya Mophet sK di Olah-olah Padepokan Seni Kudus
Desember, Pentas Kolaborasi Kelebat Karya Abimanyu Ianocta P. dalam Srawung Dalu di 
Auditorium UMK Kudus
 

 2012

Januari, Pentas Kolaborasi Syndrome karya Leo Katarsis mengenang 1000 hari wafatnya  Gusdur di RM. Bambu Wulung Kudus
Januari, Festifal Pati Ayam  di desa Pati Ayam Kudus
Februari, Karnaval Budaya Maulidan Ds. Padurenan Di Ds. Padurenan Gebog Kudus
Maret, Hampa Kini Karya Farid dalam Gelar Budaya Muria di di Taman Budaya Sosrokartono Bae, Kudus

Maret, Gelar Budaya Muria di Taman Budaya Sosrokartono Bae, Kudus

Juli, Karnaval Budaya Visualisasi Dandhangan di Alun – alun SimpangTujuh Kudus
September, (Merdeka) karya Leo Katarsis di Auditorium UMK
 

 2013

Cuih, karya Mophet SK

Coblong, karya Mophet SK

 


Mophet_sK Hadewh..Huft..Cpek beudh

sekilas samr

Mungkin hnya kebetulan tp ya mang nyatane kyag gitu ug ! Di mulai dngan, 3 bln proses lat skiranya adlah proses yg ideal utk sbuah garapan naskah, nmun yg trjadi dr 30 pmain yang awalnya antusias ikut stlah 3 minggu lat tinggal 3 person ja, tupun stiap lat nya pke acara tlat tdak kurang dr 3 jam, dngan brbagai mcam alasan. Akhirnya kompromi, toleransi terjadi dmi ttp berjalannya proses ni, entah manusia macam skrang ni, stiap kali kompromi, stiap kali minta toleransi stiap kali pula mengingkari… “1..2..3 Sayang semuanya” by lagu anak anak ! makna kata “syang sendiri mang ambigu bs brarti curahan kasih bs jg penyesalan, nmun sblum terjadi msih da ksempatan tuk tdak mnyesal dgn terus berbuat. Akhirnya pntas diundur dngan revisi prijinan tmpat mpe 3 kali, n tpat 3 minggu sblum pentas, 3 pmain utama yng dari awal ikut proses justru mengundurkan diri. Smpat mengeluh     “Hadewh lagi “ namun  akhirnya  scara tak sngaja dlm kgalauan mnculah ank2 baru brsamaan tman2 yg dah lama ngilang ikut gabung. Ini seru ! n mrupakan The Big Challenge krn formasi terupdate adlh pnggabungan antara ank baru yg sangat awan tntang panggung n tman2 lama yg mrupakan para pkerja teknis alias tkang dekor, pelawak dan jg biduan. Namanya jg komunitas Samar. “ORA JELAS NENG WARAS” krn Hidup Adalah Proses Mengada - ada tanpa Jeda!

adalah perjalanan panjang dengan segala

bagian yang menyertainya…

adalah kepastian – kepastian dengan segala kemungkinannya…

adalah ruang persetubuhan antara

laku dan waktu…

adalah…


Coblong (lubang) berasal dari kata CaBa (AksaraJawa) yang berarti wadah atau tempat saat menjalin rasa menjadi satu yang  dimiliki oleh lelaki atau wanita. Lelaki atau wanita yang merupakan symbol manifestasi dari kesemestaan ini. Coblong bias dikatakan sebagai tempat untuk bersatu (Manunggal), saling berbagi, saling mengisi (Sense of Harmony). Inti dari kesemestaan adalah Sense of Harmony (Keselarasan/Keseimbangan). Bisa diartikan pula sebagai Cinta. Karena cinta adalah serpihan rasa dalam keutuhan semesta. Namun dalam mewujudkan cinta apakah cukup hanya dengan mengucapkan kata “I Love You” ? Perjalanan hidup tak cukup sederhana hanya dengan sebuah kata (mantra) dan kemudian meyakininya saja, ada laku (gerak) untuk menuju, ada pembuktian oleh waktu. Sementara dalam kenyataannya, kemutlakan waktu (Newton) telah tergeser oleh hukum relativitas (Einstein). Jadi perjalanan hidup adalah Titah ‘The Real Relativity’ untuk senantiasa mewujudkan cinta, mewujudkan keselarasan, menuju Coblong.

***








Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | ewa network review